Mengupas Sejarah Studi Islam, UIN KHAS Jember Bekali Mahasiswa Pascasarjana 2025
JEMBER – Program Studi Studi Islam Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember menggelar Kegiatan Pengembangan Suasana Akademik untuk menyambut mahasiswa baru angkatan 2025. Acara yang berlangsung pada Kamis, 9 Oktober 2025, ini menghadirkan Dr. Aslam Saad, M.Ag., yang mengupas tuntas tema “Sejarah Perkembangan Studi Islam dari Klasik ke Modern” untuk membekali para mahasiswa dalam menempuh studi lanjut mereka.
Kegiatan ini merupakan bagian penting dari orientasi akademik yang bertujuan memberikan landasan filosofis dan historis kepada mahasiswa baru. Melalui pemahaman mendalam tentang akar keilmuan yang akan mereka tekuni, mahasiswa diharapkan memiliki kerangka berpikir yang kuat dan komprehensif sejak awal masa perkuliahan di tingkat magister.
Dalam sesi sore yang penuh antusiasme, Dr. Aslam Saad memaparkan perjalanan panjang studi Islam, mulai dari sejarah, tradisi, hingga peradaban di era klasik sampai kontemporer. Ia menjelaskan ragam disiplin dalam studi Islam yang begitu kaya, mencakup teologi (kalam), fikih, tasawuf, dan berbagai bidang lainnya yang saling berkaitan.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah perbedaan mendasar antara studi tradisi Islam, studi Islam (Islamic studies), dan studi agama (religious studies). Dr. Aslam menekankan bahwa pemahaman ini penting agar mahasiswa tidak salah dalam memosisikan pendekatan riset mereka di masa depan dan mampu membangun dialog konstruktif dengan penganut agama lain.
Paparan historisnya membawa audiens menelusuri fase kejayaan peradaban Islam hingga periode stagnansi yang terjadi antara abad ketujuh sampai kedua puluh. Analisis ini memberikan konteks mengapa studi Islam kemudian juga ditemukan dalam tradisi Barat, yang pada awalnya merupakan implikasi dari era kolonialisme.
Seiring tumbuhnya kesadaran untuk lepas dari hegemoni kolonial, muncul semangat perlawanan terhadap dominasi orientalisme dalam kajian keislaman. Dr. Aslam menjelaskan bagaimana semangat ini mendorong lahirnya para sarjana Muslim yang menawarkan perspektif baru yang lebih otentik dan membebaskan.
Meski demikian, ia juga mengakui bahwa studi Islam di Barat pada era modern telah berkembang menjadi lebih objektif dan kritis, terlepas dari bayang-bayang kolonialisme masa lalu. Hal ini membuka peluang dialog keilmuan yang lebih setara antara sarjana Barat dan Muslim, yang saling memperkaya khazanah pengetahuan.
Lebih lanjut, Dr. Aslam menegaskan bahwa kajian studi Islam memiliki implikasi luas, tidak hanya bagi Muslim, tetapi juga bagi non-Muslim. Tujuannya adalah untuk menciptakan wawasan keagamaan yang inklusif, moderat, dan mampu menjawab tantangan zaman. Di sisi lain, studi ini juga bertujuan mencetak kader-kader intelektual Islam dan para imam yang mumpuni.
Dr. Aslam berpesan kepada mahasiswa, “Jika ingin menjadi seorang scholar Muslim, setidaknya mumpuni dalam salah satu bidang studi Islam. Kuasai dulu bidang yang Anda tekuni, miliki kepakaran di sana, baru kemudian kembangkan dengan metodologi Islamic studies.” Ia juga mewajibkan para calon sarjana untuk membaca buku-buku studi perbandingan agama.
Sesi ini ditutup dengan tanya jawab yang interaktif, di mana mahasiswa memberikan respons positif dan mengaitkan materi dengan konteks yang mereka hadapi sehari-hari. Mereka didorong untuk menyadari peran ganda sebagai peneliti studi Islam, yakni mampu bergerak antara subjektivitas, objektivitas, dan intersubjektivitas dalam setiap kajian yang dilakukan.
Penulis : Rina Najiha
Editor : Kunzita Lazuardi




